Siapa Brain Cipher lalu Bagaimana Tim Hal ini Menyerang PDNS dengan Ransomware?
Jakarta – Tim peretas Brain Cipher yang digunakan melakukan serangan siber jenis ransomware ke Pusat Informasi Nasional Sementara (PDNS) Indonesia, tergolong geng yang tersebut baru muncul pada lanskap ancaman siber. Komunitas ini menyerang sistem pengguna dengan ransomware varian LockBit. Modusnya dengan mengunci data lewat enkripsi kemudian selanjutnya orang yang terluka diperas jikalau ingin mendapatkan data kembali.
Laporan Broadcom Inc, Selasa, 2 Juli 2024, membeberkan bahwa informasi ihwal kelompok Brain Cipher juga lokasi keberadaannya masih belum sejumlah terungkap ke publik. Selain kelompok yang dimaksud baru, geng ransomware ini juga belum memperlihatkan prosedur yang tersebut jelas akan jenis orang yang terluka yang ditargetnya.
Namun, yang digunakan dapat dipastikan, kelompok Brain Cipher itu memanfaatkan initial access brokers (IAB) atau perantara akses awal untuk meretas sistem yang ditargetnya. Lalu kelompok ini dilaporkan juga melakukan phishing, hingga mengeksploitasi kerentanan di aplikasi mobile yang digunakan diakses publik. Bahkan Brain Cipher mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan perangkat dari jarak jarak jauh berkat Remote Desktop Protocol atau RDP.
Kepala Badan Siber juga Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian membenarkan bahwa kelompok Brain Cipher yang dimaksud melakukan serangan ransomware ke PDNS. Dia mengungkap fakta ini pada waktu konferensi pers pada Gedung Kementerian Komunikasi lalu Informatika (Kominfo), DKI Jakarta Pusat, Senin, 24 Juni 2024 lalu.
“Insiden pusat data semetara ini adalah serangan siber pada bentuk ransomware dengan nama Brain Cipher Ransomware,” ujar Hinsa. Sejak awal terungkap ke rakyat hingga kini, data dalam PDNS masih dienkripsi akibat serangan tersebut. Bahkan, saat ini muncul informasi yang tersebut mengaku sebagai Brain Cipher lalu menyatakan akan membuka akses kunci dekripsi PDNS secara gratis.
Cara Brain Cipher Sebar Ransomware
Brain Cipher menyebar melalui bervariasi metode, di antaranya email phishing, unduhan perangkat lunak yang dimaksud tak sah, dan juga eksploitasi kerentanan pada sistem operasi dan juga aplikasi. Brain Cipher biasanya menyusup ke di sistem melalui lampiran email yang dimaksud berisi makro berbahaya atau melalui tautan yang tersebut mengarahkan pengguna ke portal web yang terinfeksi.
Setelah berhasil menginfeksi sistem, Brain Cipher melakukan langkah-langkah berikut:
1. Infiltrasi Sistem: Masuk ke sistem melalui email phishing atau unduhan perangkat lunak yang terinfeksi.
2. Eksekusi Malware: Mengunduh komponen tambahan dari server kendali yang digunakan dikendalikan oleh pelaku.
3. Enkripsi Data: Mengenkripsi file dalam komputer orang yang terluka menggunakan algoritma RSA-2048 dan juga AES-256.
4. Pesan Tebusan: Menampilkan instruksi tebusan yang dimaksud memohon pembayaran pada bentuk cryptocurrency seperti Bitcoin untuk mendapatkan kunci dekripsi.
Lanskap Ancaman Ransomware 2024
Laporan tahunan kelima yang tersebut diterbitkan oleh Sophos Ltd. mengungkap bahwa lanskap ancaman ransomware telah lama berubah semenjak per tahun terakhir. Berdasarkan temuan survei terhadap para pemimpin TI lalu keamanan siber dalam 14 negara, lembaga ini meninjau untuk 2024 terbentuk penurunan serangan siber jenis ransomware hampir di seluruh wilayah.
Terkait persentasenya, pada 2020 jumlah agregat serangan ransomware mencapai 51 persen; 2021 hanya sekali 37 persen; 2022 dan juga 2023 naik menjadi 66 persen; sedangkan 2024 turun bermetamorfosis menjadi 59 persen. Walaupun tingkat serangan telah lama mengecil selama per tahun terakhir, Sophos meninjau bahwa biaya pemulihan terhadap dampak serangan selalu mengalami lonjakan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Studi ini juga menemukan keterang bahwa terbentuk pembaharuan signifikan selama tahunan terakhir ihwal kecenderungan tindakan yang diambil penderita ketika terjadinya serangan. Menurut Sophos, hampir dari setengah organisasi/perusahaan yang mana disurveinya, melaporkan telah lama membayar data terenkripsi atau dikunci peretas supaya mampu pulih kembali. Lalu sebagian lainnya melakukan pemulihan menggunakan cadangan data yang dimilikinya.
Artikel ini disadur dari Siapa Brain Cipher dan Bagaimana Kelompok Ini Menyerang PDNS dengan Ransomware?





