Nasional

Penghapusan Jurusan ke SMA, Dosen Undip: Siswa Tak Boleh Pasif

Jakarta – Dosen Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Dian Ratna Sawitri menyatakan penghapusan jurusan ke SMA oleh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, serta Teknologi (Kemendikbudristek), menimbulkan siswa harus lebih lanjut awal menentukan cita-cita mereka.

“Namun, cita-cita anak tak mampu bertambah dalam ruang hampa,” ucapnya melalui panggilan WhatsApp pada Kamis, 25 Juni 2024.

Dian menjelaskan langkah-langkah mengeksplorasi minat lalu bakat siswa tak cukup apabila semata-mata direalisasikan selama satu atau dua bulan. Ia mencontohkan, di dalam negara seperti Australia yang mana memiliki sistem institusi belajar bagus, proses eksplorasi telah diterapkan mulai sejak sekolah dasar (SD).

Meski begitu, kata Dian, eksplorasi semata tiada cukup. Di jenjang selanjutnya yakni SMP maupun SMA, siswa harus membentuk keyakinan terhadap kemampuan mereka. Keyakinan itu adalah proses dari dia mencoba, pengalaman berhasil maupun gagal sejak kecil, juga timbal balik atau respons dari pendatang lain.

Oleh karena, Dian berujar kebijakan penghapusan jurusan dalam SMA penting komprehensif dari hulu hingga hilir. “Siswa ini harus telah ready untuk mengambil kuputusan lalu siap mengesplorasi, enggak boleh pasif,” ujarnya.

Dian mengusulkan, sekolah dapat menghadirkan role model bagi siswa agar terinspirasi, sebab keinginan anak untuk berkarier tidak ada muncul secara tiba-tiba. “Mereka mungkin saja terinspirasi berubah jadi influencer akibat mengamati media sosial,” ucapnya.

Selain itu, sekolah dapat berkoordinasi dengan perguruan tinggi. Misalnya, untuk berubah menjadi seseorang akuntan ilmu apa sekadar yang dimaksud dibutuhkan. Sehingga, padahal siswa dibebaskan memilih mata pelajaran di dalam kelas XI, bukan akan kebingungan.

Siswa kemudian diperlukan mendiskusikan dengan khalayak tua maupun guru tentang keinginan mereka ke depan. Menurut dia, budaya pada Indonesia, anak-anak cenderung masih bergantung dengan pemukim tua mereka, misalnya di hal mengambil keputusan.

“Keterampilan mengambil kebijakan tidaklah terlalu tergantung pada warga tua, meskipun harus terus rasional serta berkomunikasi, tapi kemandirian untuk mengambil kebijakan harus dipersiapkan dari awal,” kata Dian.

Senada dengan itu, Pakar Pendidikan Holy Ichda Wahyuni memaparkan penduduk tua memegang peranan penting bagi siswa mengeksplorasi minat, bakat mereka. “Mereka yang tersebut seharusnya paling paham tentang minat, bakat, juga rencana studi anak-anak mereka,” kata ia terhadap Tempo, Senin, 22 Juli 2024.

Orang tua, kata Holy, seharusnya tak menjadikan anak seperti apa yang mana beliau mau, tetapi mengawal serta mendampingi anak untuk menemukan keinginannya. Ia berharap kebijakan ini mampu merancang kesadaran bagi pemukim tua bahwa tak ada lagi jurusan yang tersebut lebih tinggi unggul, tapi berbasis permintaan anak atau siswa.

Artikel ini disadur dari Penghapusan Jurusan di SMA, Dosen Undip: Siswa Tak Boleh Pasif

Related Articles

Back to top button