Konspirasi Penembakan Donald Trump Berseliweran pada X, Sikap Elon Musk Berseberangan
Jakarta – Situasi penembakan Donald Trump bermetamorfosis menjadi tersebar luas dalam sejumlah media sosial, mulai dari X (yang sebelumnya bernama Twitter), Instagram, Facebook hingga YouTube. Namun, dari pantauan Tempo terlihat media sosial X tambahan banyak memberikan ruang untuk sesama pengguna untuk berdiskusi ketimbang yang digunakan lain.
Trump ditembak ketika kampanye pada kawasan Butler, Pennsylvania, Sabtu, 13 Juli 2024 waktu setempat. Video menunjukkan darah berceceran di pipi kanan dan juga telinga Trump. Sedangkan terperiksa penembakan tewas, begitu pula orang penonton, kemudian pribadi lainnya pada status kritis, kata pribadi reporter Washington Post ke media sosial.
Video kemudian foto-foto Trump terluka mulai padat ke media sosial setelahnya aksi penembakan terjadi. Beragam komentar dari pelbagai akun pribadi terverifikasi, organisasi juga media massa memberikan ihwal kejadian ini. Dikutip dari The Verge, media sosial X berperan besar sebagai penyumbang misinformasi ketimbang kompetitornya seperti Facebook serta Instagram.
“Teori konspirasi tentang penembakan Donald Trump mulai muncul di dalam X tak lama pasca berita itu tersiar,” kata laporan The Verge, dikutipkan Senin, 15 Juli 2024. Laporan ini juga menyebut, “Platform-platform besar lainnya tampaknya menyavoid penawaran misinformasi.”
Pandangan ini didukung dengan metode pengelolaan konten pada empat media sosial tersebut. Misalnya di dalam YouTube, media ini lebih lanjut selektif pada menyajikan konten yang mana relevan, juga menampilkan kreator terverifikasi untuk berada dalam urutan teratas dari rekomendasi penelusuran. Metode ini menciptakan konten-konten berisi konspirasi atau yang digunakan dianggap faktanya belum lengkap tak akan berbagai dijangkau oleh pengguna.
Ada pula Facebook yang mana setiap saat memperhatikan tingkat akurasi dari setiap konten unggahan pengguna ihwal isu terbaru. Facebook disebut pernah menghapus topik yang digunakan sedang tren pada 2018, akibat misinformasi dan juga konspirasi yang mana dimuat di konten itu. Penelusuran Tempo dengan mengetik keyword penembakan Donald Trump dalam media ini, terlihat kalau rekomendasi teratas hanya sekali diisi oleh media massa yang kredibel kemudian sudah ada terverifikasi.
Editor Eksekutif The Verge, Jacob Kastrenakes, mengatakan tindakan YouTube lalu Facebook pada menyeleksi konten yang mana ditayangkan terkait isu teranyar dianggap sebagai serangkaian menjauhi misinformasi. Sedangkan dalam media sosial X konten yang tersebut paling tren akan tambahan banyak diisi oleh topik-topik bernuansa konspirasi dan juga dibagikan oleh sembarang pengguna.
Fakta lainnya terkait media sosial X di menjalankan arus informasi di dalam platformnya, dengan memberikan semua ruang terhadap pengguna terverifikasi maupun yang tidak. “Anda akan menemukan sejumlah postingan singkat dari pengguna X yang mengemukakan bahwa penembakan yang disebutkan tampak palsu atau semata-mata sandiwara.”
The Verge mengumumkan pihaknya sudah ada meminta-minta komentar untuk X terkait fenomena misinformasi lalu konspirasi penembakan Trump yang digunakan beredar dalam platform digital tersebut. Namun analis teknologi global ini semata-mata menerima balasan otomatis tertulis, “Sekarang sibuk, silakan periksa lagi nanti.”
Kendati demikian, Elon Musk selaku pemilik X ketika ini tidak ada menaruh pandangan yang berbeda akan penembakan Trump ini. Dia mengunggah cuitan berisikan harapan supaya kondisi mantan Presiden Amerika Serikat itu cepat pulih pasca insiden ini. Dia juga secara terang-terangan mengupayakan sikap kebijakan pemerintah Trump.
Melihat perbedaan pandangan Elon Musk yang dimaksud mengakui kalau Trump benar-benar ditembak, juga konspirasi yang digunakan muncul di dalam media sosial X, tentu dua pandangan ini sesuatu hal yang dimaksud berbeda.
Padahal Elon Musk pemilik media sosial tersebut, ia mampu sekadar menghilangkan semua konten misinformasi serta memblokirnya. Namun Elon Musk tidaklah melakukan itu, sebab beliau terus mengiklankan kalau media sosial X salah satunya ruang kebebasan untuk berbicara juga tidak ada ada batasannya.
“Elon Musk dengan gigih memperkuat kebebasan berbicara dalam wadah media sosialnya yang tersebut dapat mencakup misinformasi. Musk mengambil pandangan yang tersebut semakin konservatif di beberapa tahun terakhir,” kata Jacob Kastrenakes.
Artikel ini disadur dari Konspirasi Penembakan Donald Trump Berseliweran di X, Sikap Elon Musk Berseberangan




