Afrika Selatan Rugi Rp2.537 Trilyun Akibat Pemadaman Listrik

JAKARTA – Akibat pemadaman listrik secara intensif pada tahun 2023, perekonomian Afrika Selatan (Afsel) menelan kerugian mencapai USD155 miliar atau setara Rp2.537 triliun (dengan kurs Rp16.371 per dolar AS). Namun pada tahun 2024, ekonomi Afrika Selatan mulai pulih.
Pada tahun kemarin tak ada penurunan beban akibat selama 300 hari berturut-turut antara periode April dan juga Desember 2024. Kondisi ini menjadi sinyal perbaikan krisis listrik yang sempat dialami negara anggota BRICS tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Dewan Penelitian Ilmiah dan juga Industri (CSIR) di laporan statistik pembangkit listrik skala utilitas yang tersebut mencakup Januari hingga Desember 2024. Diterangkan sektor ekonomi Afsel mulai bangkit kembali pada tahun lalu, seiring membaiknya pasokan listrik .
Laporan CSIR juga mencatatkan data bahwa tarif rata-rata listrik secara nasional meningkat sebesar 12,74% tahun ini mencapai ~ c/kWh 195, yang tersebut sangat jauh lebih tinggi tinggi daripada biaya sumber daya pembangkit variabel terbaru yang dimaksud berkisar antara c/kWh 50 juga 60 untuk fotovoltaik surya (PV) kemudian angin.
Akibatnya, harga jual rata-rata listrik nasional ketika ini berada di area menghadapi biaya sumber daya pembangkit terbarukan, yang dimaksud berkisar antara R/kWh 0,5 lalu 0,6 untuk pembangkit listrik tenaga surya lalu pembangkit listrik skala utilitas angin pada inisiatif Pengadaan Produsen Listrik Independen Energi Terbarukan (REIPPP).
Kepala pusat energi CSIR, Dr Thabo Hlalele pada waktu konferensi media memberikan catatan bahwa nilai rata-rata listrik nasional meningkat setiap tahun dengan rerata sekitar 11% selama 10 tahun terakhir dibandingkan dengan tingkat kenaikan harga rata-rata tahunan sekitar 5%.
Studi ini membandingkan sumber daya pembangkit agregat Eskom untuk tahun 2024, termasuk batu bara, nuklir, hidro, penyimpanan pompa, turbin gas siklus terbuka, REIPPP, PLTS surya, angin, serta tenaga surya terkonsentrasi dengan kapasitas terpasang dan juga output produksi energi dari Januari hingga Desember 2024 untuk menilai dampaknya terhadap pelepasan beban.
Iterasi ini juga meneliti rata-rata kenaikan tarif listrik secara nasional dan juga membandingkannya dengan tarif di area negara lain. Regulator Daya Nasional Afrika Selatan (Nersa) mengusulkan kenaikan tarif listrik sebesar 12,74% pada menghadapi kenaikan harga yang diharapkan sebesar 4,4% untuk tahun 2024.
“Harga rata-rata listrik nasional sekarang berada di dalam menghadapi biaya yang digunakan diratakan dari sumber daya pembangkit terbarukan yang mana berkisar antara R/kWh 0,5 serta 0,6 untuk pembangkit listrik tenaga surya juga skala utilitas angin di kegiatan REIPPP,” catatnya.
Hlalele mengatakan, bahwa rata-rata tarif listrik nasional telah lama meningkat sebesar 190% sejak 2014, yang dimaksud tambahan tinggi dari pemuaian lalu dapat berdampak pada keterjangkauan. Sementara tarif agregat Eskom meningkat sebesar 190% sejak 2014, yang sangat jauh lebih besar tinggi dari tingkat kenaikan harga tahunan rata-rata sebesar 5,2% selama periode yang mana sama.






