Museum Kereta Api Ambarawa, saksi sejarah transportasi Indonesi

Ibukota Indonesia –
Tidak hanya saja menyajikan koleksi lokomotif tua, Museum Kereta Api Ambarawa juga berubah menjadi saksi sejarah perkembangan transportasi kereta api dalam tanah air.
Jauh sebelum museum berdiri, Ambarawa dikenal sebagai kota militer yang memperkuat Magelang pada mengontrol wilayah pedalaman. Pada 1835, dibangun Benteng Willem I yang tersebut selesai pada 1848, di masa pemerintahan Raja Willem I.
Pada 1873, perusahaan kereta api swasta NISM memulai pembangunan jaringan kereta ke Ambarawa sebagai persyaratan untuk mendapatkan konsesi jalur Semarang-Vorstenlanden (kini Surakarta kemudian Yogyakarta). Jalur cabang Kedungjati-Ambarawa sepanjang 37 kilometer dibangun untuk kepentingan militer.
Stasiun Willem I, yang sekarang ini dikenal sebagai Stasiun Ambarawa, dibangun sebagai pemberhentian akhir kereta api. Pada 1 Februari 1905, jalur kereta menuju Secang-Magelang diperpanjang, termasuk penambahan rel bergerigi untuk medan khusus.
Dua tahun pasca renovasi, Stasiun Willem I berfungsi untuk jalur pengangkutan ekspor serta transportasi militer dalam Jawa Tengah. Namun, seiring waktu juga modernisasi transportasi, peran Stasiun Ambarawa mulai memudar.
Pada 1970, jalur kereta api antara Ambarawa juga Kedungjati resmi ditutup. Setelah ditutup pada 1976, Stasiun Ambarawa dijadikan Museum Kereta Api oleh Pemimpin wilayah Jawa Tengah, Supardjo Rustam, untuk melestarikan lokomotif uap juga berubah menjadi daya tarik wisata.
Museum Kereta Api Ambarawa kini
Ambarawa dipilih lantaran perannya pada sejarah perjuangan kemerdekaan, salah satunya Pertempuran Ambarawa, juga masih menyimpan teknologi kereta api kuno yang masih berfungsi.
Museum Kereta Api Ambarawa, atau Indonesian Railway Museum (IRM), memamerkan koleksi perkeretaapian dari masa Hindia Belanda hingga pra-kemerdekaan, salah satunya 26 lokomotif uap, empat lokomotif diesel, lima kereta, lalu enam gerbong.
Pengunjung dapat menikmati perjalanan dengan Kereta Api Wisata rute Ambarawa-Tuntang menggunakan lokomotif uap atau diesel. Terdapat juga rute Ambarawa-Jambu-Bedono yang digunakan menggunakan lokomotif uap bergerigi, satu-satunya rel bergerigi yang mana masih berpartisipasi dalam Indonesia.
Museum itu menjadi salah satu tempat edukatif yang digunakan mendebarkan bagi rakyat juga wisatawan yang dimaksud ingin mendalami sejarah transportasi kereta api ke Indonesia.
Dengan nilai sejarah yang dimaksud tinggi, Museum Kereta Api Ambarawa tidak ada hanya saja berubah menjadi destinasi wisata, tapi, juga sebagai saksi bisu perjalanan panjang sistem transportasi kereta api ke Indonesia. Sebagai museum yang digunakan terus berkembang, tempat ini berupaya menguatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya bangsa.
Artikel ini disadur dari Museum Kereta Api Ambarawa, saksi sejarah transportasi Indonesia






