Kunjungan Paus Fransiskus Momentum Wujudkan Kerukunan Antarumat Beragama

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus mengunjungi Indonesia, 3-6 September 2024. Dalam kunjungannya, Paus ke-266 dari Vatikan ini menyampaikan pesan-pesan keimanan juga perdamaian, yang dimaksud diharapkan dapat menguatkan rasa persahabatan yang digunakan sudah pernah terjalin antarumat beragama di area Indonesia.
Guru Besar Sektor Keilmuan Tafsir UIN Sunan Kalijaga, Prof Sahiron Syamsuddin menjelaskan, kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki urgensi bagi banyak pihak. Hal ini dapat berdampak positif pada persahabatan juga kerukunan umat beragama dalam Indonesia, khususnya bagi umat Katolik lalu Islam.
“Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia sangat penting untuk menguatkan toleransi juga harmoni antarumat beragama. Paus Fransiskus sangat concerned terhadap isu-isu kemanusian, keadilan juga perdamaian,” kata Prof Sahiron, Kamis (5/9/2024).
Ia menguraikan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga mampu diartikan sebagai bentuk perhatian kemudian apresiasi umat Katolik di area seluruh dunia pada keberhasilan Indonesia di menjalankan toleransi antarumat beragama. Wujud perhatian ini diharapkan dapat dikelola dengan baik oleh Indonesia, sehingga dapat menjadi percontohan bagi dunia Internasional bahwa kemajemukan dapat dinaungi dengan baik melalui Pancasila kemudian UUD 1945.
Perdamaian yang tersebut sudah pernah terjalin lama di tempat Indonesia, menurut Prof Sahiron, terkadang mendapatkan gangguan dari pihak-pihak tertentu yang menyebabkan konflik antarumat beragama. Tanpa terkecuali, pemeluk agama Islam dan juga Kristen pada Indonesia sempat beberapa kali terjebak pada konflik yang tersebut sifatnya primordial juga cenderung tak substansial. Padahal, penyulut konflik biasanya diawali dari hal yang dimaksud sepele, namun oleh sebab itu kurangnya komunikasi yang tersebut efektif dari kedua belah pihak, permasalahan kian menajam.
“Konflik-konflik yang pernah terjadi Indonesia yang digunakan melibatkan umat-umat beragama, khususnya Islam kemudian Kristen, itu muncul tidak lantaran ajaran agama masing-masing, tetapi oleh sebab itu faktor kebijakan pemerintah kemudian ketidakadilan. Kita semua tentu berharap agar konflik-konflik sama tidak ada terjadi lagi,” katanya.
Selain itu, pengajar du Fakultas Ushuluddin lalu Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini berpendapat bahwa perbedaan keyakinan sebenarnya tidak ada menjadi penghalang bagi merek yang tersebut berbeda keimanan pada berbuat kebaikan. Menurutnya, semua agama yang dimaksud ada mengajarkan kebaikan juga persatuan antar manusia, sehingga manusia seharusnya mampu saling menghormati dan juga toleransi. Jika masih ada manusia yang tersebut berbuat sebaliknya, yakni menyebarkan perpecahan serta permusuhan, maka dapat disimpulkan bahwa ia belum memahami agamanya dengan benar.
“Perbedaan agama, keyakinan lalu aliran bukanlah merupakan faktor faktor konflik, akibat semua agama mengajarkan persatuan antarumat manusia, saling menghormati kemudian bertoleransi. Kalau pun ada teks-teks agama yang mengindikasikan sebaliknya, maka teks-teks itu harus dipahami secara baik serta benar. Penafsiran kontekstual perlu diutamakan dengan memperhatikan konteks turunnya teks-teks keagamaan pada konteks kekinian,” katanya.
Terkait hubungan lintas keimanan kemudian dampaknya terhadap stabilitas nasional, Prof Sahiron menilai hal itu berkorelasi secara langsung. Sebabnya, dengan rukunnya antarumat beragama pada Indonesia, maka rakyatnya tidaklah mudah dipecah belah oleh isu-isu yang mana sifatnya temporer serta politis. “Hubungan lintas keimanan yang tersebut baik memberi dampak yang dimaksud sangat positif pada stabilitas nasional,” imbuhnya.
Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga menyiratkan tentang baiknya hubungan Indonesia dengan Vatikan. Hubungan kedua negara ini dapat menjadi simbol persatuan di perbedaan, mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar pada dunia, lalu Vatikan adalah negara yang mana menjadi pusat keagamaan Katolik.
Menurut Prof Sahiron, relasi Indonesia dengan Vatikan sejauh ini sangat baik. Hubungan yang digunakan baik ini harus dipertahankan serta ditingkatkan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi kedua negara.
Dalam mengatur perbedaan antarumat beragama, Prof Sahiron berharap agar Indonesia mampu semakin dewasa juga kuat terhadap terpaan isu-isu yang bernuansa politis serta mampu memicu polarisasi. Indonesia harus mampu menjadi role model bagi dunia akan keberhasilannya di mengatur perbedaan keyakinan diantara warga negaranya.
“Agar toleransi terus meningkat, diharapkan aktivitas-aktivitas positif, seperti dialog antarumat beragama, penguatan moderasi beragama, juga lain sebagainya, dapat dilaksanakan secara masif serta lebih tinggi efektif,” katanya.





