KPC Jaga Keberlanjutan Hunian Orang Utan lewat Proses Reklamasi

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC), melestarikan habitat lalu menyediakan rumah baru bagi orang utan dalam lahan pascatambang melalui proses reklamasi.
Konservasi orang utan dinilai penting tidaklah semata-mata lantaran merupakan satwa yang digunakan dilindungi, tapi juga dikarenakan perannya sebagai penjaga keseimbagan alam juga keanekaragaman hayati. Satwa ini mempunyai partisipasi signifikan pada membantu keberlangsungan hidup spesies lain di tempat wilayah jelajahnya.
“Orang utan disebut umbrella species dikarenakan Orang utan menjaga keseimbangan ekosistem keadaan hutan serta menjadi penyebar biji-bijian. Sangat luar biasa peran orang utan sebagai satwa endemik,” kata Manager Environment KPC Kiagus Nirwan di keterangannya, Hari Jumat (30/8/2024).
Nirwan dalam sela-sela kegiatan BUMI pada perhelatan Festival LIKE 2 Kementerian Lingkungan Hidup juga Kehutanan (KLHK) pertengahan Agustus lalu menegaskan, KPC memverifikasi kegiatan reklamasi dilaksanakan ekspansif untuk rumah baru bagi orang utan. Keberlanjutan populasi orang utan yang tersebut berperan vital sebagai umbrella species di dalam ekosistemnya, dianggap layak menjadi salah satu perhatian utama.
Reklamasi tambang adalah proses untuk merestorasi juga merehabilitasi lahan yang digunakan di aktivitas pertambangan. Proses ini bertujuan menurunkan dampak yang digunakan ditimbulkan pada lingkungan yang tersebut telah lama dieksploitasi, sehingga kondisi tanah, air, dan juga vegetasi, dan juga fungsi sistem ekologi yang pernah terganggu dapat dipulihkan kembali.
Nirwan menjelaskan, untuk mewujudkan ekosistem reklamasi yang digunakan siap menjadi penyangga hidup bagi orang utan, secara berkelanjutan pasukan KPC melaksanakan pengayaan jenis tumbuhan sarang kemudian pakan satwa. “Setiap hektare lahan ditanam 833 bibit yang digunakan terdiri berhadapan dengan 16 jenis tanaman, kemudian sebanyak 20 persennya merupakan vegetasi pakan yang tersebut berperan penting untuk menjaga keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Nirwan menambahkan, KPC juga miliki regu khusus penyelamatan satwa yang tersebut terdiri dari dokter hewan, satgas satwa, dan juga personel yang mana siap 24 jam untuk menerima laporan apabila terdapat konflik dengan orang utan. Dia mengatakan, regu ini telah dilakukan melakukan penyelamatan atau translokasi sekitar 151 individu orang utan.
“Monitoring berkala juga dilaksanakan sebagai bagian penting di area di kegiatan operasional untuk memverifikasi keanekaragaman hayati masih sanggup berjalan dengan baik, seiring dengan proses reklamasi tambang,” paparnya.




