Daya Beli Turun Saat Lebaran 2025, Mal Ramai Tapi Minim yang digunakan Belanja

JAKARTA – Daya beli penduduk di tempat momen Lebaran 2025 ini mengalami pelemahan. Chairman & Inisiator Affiliation Global Retail Association (AGRA), Roy Nicholas Mandey mengungkapkan, meskipun pusat perdagangan tampak ramai, namun nyatanya hanya saja sedikit sekadar pengunjung yang tersebut berbelanja.
“Kita lihat dari kunjungan rakyat yang mana berbelanja memang sebenarnya terjadi pelemahan. Mal masih ramai, tetapi bukan menggambarkan publik berbelanja. Mereka lebih tinggi banyak datang untuk bersilaturahmi, berbuka puasa, kemudian pada waktu lebaran ya berkumpul dengan keluarga,” ujar Roy ketika dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (2/4/2025).
Roy menjelaskan, bahwa pada waktu ini pengunjung lebih tinggi rutin sekadar melihat-lihat tanpa melakukan pembelian yang digunakan signifikan. Lebih lanjut, Roy juga mengungkap apabila ukuran rata-rata jumlah keseluruhan barang atau layanan yang digunakan dibeli di satu proses (basket size) mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Berdasarkan survei dari Populix, kata Roy, sekitar 55-56% penerima Tunjangan Hari Raya (THR) ketika ini lebih lanjut memilih untuk menabung, sehingga total publik yang tersebut berbelanja maupun yang mana melakukan mudik juga mengambil bagian berkurang. Hal ini bisa saja dilihat dari data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ketika jumlah keseluruhan pemudik turun dari 192 jt menjadi 146 juta.
Selain itu menurut Roy, peredaran uang di tempat penduduk juga mengalami penurunan signifikan, turun sekitar 16% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, peredaran uang mencapai Rp137 triliun, sementara dalam 2025 cuma sekitar Rp114 triliun.
“Indeks pelanggan ritel (IPR) kita juga turun dari 122 menjadi 112. Jadi semua indikator menandakan memang benar rakyat menahan, menahan belanja. Jadi ada dua model. Ada yang tersebut menahan belanja meskipun merek punya uang, ada juga yang tersebut menahan belanja lantaran merekan ter-PHK,” sebut Roy.
Roy juga menyoroti dampak dari penurunan daya beli terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika tahun lalu perkembangan perekonomian kuartal kedua mencapai 5,17, tahun ini diperkirakan cuma berada di area kisaran 4,8-4,9. Pertumbuhan ritel pun tiada lagi mencapai double digit seperti tahun sebelumnya yang dimaksud berada di dalam bilangan 18-20%, melainkan belaka sekitar 8-9%.
“Pemerintah seharusnya mencermati indikator-indikator ini untuk mengambil langkah-langkah strategis pada menggerakkan konsumsi masyarakat,” pungkas Roy.






