Terobosan Teknologi EBUS pada Deteksi Kanker Paru
INFO BISNIS – Di Indonesia, neoplasma paru berubah menjadi salah satu jenis tumor ganas yang mana berbagai terjadi. Faktor utama penyebabnya adalah aktivitas merokok. Namun, komponen lain seperti paparan asap, zat berbahaya seperti asbes, radon, serta polusi udara juga dapat meningkatkan risiko terkena tumor ganas paru.
Menurut dokter spesialis paru RS Siloam MRCCC Semanggi, Ginanjar Arum Desianti, untuk mendiagnosis karsinoma paru, langkah yang tersebut dapat dikerjakan adalah rontgen dada, CT scan, sitologi dahak untuk mendeteksi sel-sel neoplasma di dahak, lalu biopsi ke jaringan yang mana dicurigai.
Arum pun memberikan penjelasan lebih besar lanjut mengenai salah satu prosedur diagnosis tumor ganas paru yaitu Endobronchial Ultrasound atau biasa dikenal dengan EBUS.
EBUS adalah prosedur yang mana dilaksanakan untuk mendapatkan deskripsi tambahan jelas kemudian memperoleh sampel dari saluran pernapasan, paru-paru, dan juga kelenjar getah bening.
Prosedur ini melibatkan pemakaian tabung kecil yang tersebut dilengkapi dengan kamera video serta ultrasound yang digunakan dimasukkan melalui mulut dan juga tenggorokan.
EBUS mempunyai beberapa faedah seperti memberikan sampel asli dari area yang digunakan dijangkau, menghasilkan kembali gambar yang detail untuk evaluasi patologi, lalu menyediakan pilihan anestesi sedang atau anestesi umum.
Proses EBUS juga relatif cepat juga sebagian besar pasien dapat pulang pada hari yang dimaksud sama.
Menurut Arum, EBUS dapat berubah jadi alternatif pilihan diagnosis yang dimaksud tepat akibat tingkat ketepatan dan juga keberhasilan mencapai 95 persen.
“Dengan bantuan diagnosis EBUS, pasien tentunya akan mendapatkan proses terapi yang tepat sehingga kualitas hidup akan berubah menjadi lebih lanjut baik,” ujar Arum.
Di bawah ini ada beberapa langkah yang mana dikerjakan pada prosedur EBUS.
Persiapan
Sebelum melakukan EBUS, pasien akan menjalani pemeriksaan pra-prosedur, diantaranya pemeriksaan fisik serta riwayat medis. Pasien kemungkinan besar juga diperlukan berpuasa beberapa jam sebelum prosedur, sesuai dengan instruksi dokter.
Jika ada keadaan medis tertentu atau penyelenggaraan bubuk-bubuk tertentu, dokter akan memberikan instruksi khusus terkait persiapan.
Anestesi
EBUS dapat direalisasikan dengan anestesi sedang atau anestesi umum, tergantung pada situasi lalu preferensi pasien. Penting bagi pasien untuk mengikuti instruksi dokter terkait permintaan makan atau minum sebelum prosedur dilakukan.
Memasukkan Tabung Endobronchial Ultrasound
Setelah pasien dibius, dokter akan memasukkan tabung kecil yang dilengkapi dengan kamera serta probe ultrasound melalui mulut serta tenggorokan pasien.
Tabung ini akan mencapai saluran pernapasan, paru-paru, kemudian kemungkinan besar juga kelenjar getah bening di sekitarnya.
Pemantauan Visualisasi
Saat tabung EBUS dimasukkan, dokter akan menggunakan monitor untuk meninjau pandangan dengan segera dari saluran pernapasan, paru-paru, juga kelenjar getah bening. Gambar ini akan membantu dokter pada menemukan serta mengevaluasi area yang digunakan diperlukan.
Aspirasi Jarum Transbronkial (TBNA)
Selain visualisasi, dokter juga dapat melakukan teknik aspirasi jarum transbronkial (TBNA) selama EBUS. Teknik ini memungkinkan dokter mengambil sampel jaringan atau cairan dari paru-paru kemudian kelenjar getah bening dalam sekitarnya menggunakan jarum kecil.
Penutupan serta Pemulihan
Setelah prosedur selesai, tabung EBUS akan ditarik perlahan. Saat efek anestesi menghilang, pasien akan dipantau secara berkala untuk melakukan konfirmasi pemulihan yang digunakan baik.
Setelah EBUS, dokter akan menggunakan sampel yang diambil selama prosedur untuk analisis lebih lanjut lanjut dan juga mendiagnosis status pasien.
Pada umumnya, pasien dapat pulang pada hari yang mirip dengan prosedur, tetapi ini juga akan tergantung pada keadaan individu serta instruksi dokter.
Apabila ada gejala tidaklah biasa atau hambatan pasca prosedur, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.
Setelah prosedur EBUS, ada beberapa hal yang mana penting diperhatikan untuk menegaskan pemulihan yang optimal. Di bawah ini adalah beberapa langkah yang dimaksud dapat diambil:
Istirahat kemudian Pemulihan
Setelah prosedur EBUS, penting bagi pasien untuk istirahat yang cukup untuk memungkinkan tubuh pulih. Hindari aktivitas yang digunakan berat kemudian pastikan untuk tidur dengan baik.
Perawatan Luka
Pasien mungkin saja mengalami sedikit ketidaknyamanan atau sakit tenggorokan setelahnya prosedur. Minum air hangat dapat membantu meredakan gejala ini. Jika ada perdarahan atau infeksi, segera hubungi dokter.
Pengawasan Ciri
Pasien juga diperlukan memantau gejala-gejala yang tidak ada biasa seperti demam, batuk berdarah, atau sesak napas yang digunakan memburuk. Jika mengalami hal ini, segera berkonsultasi dengan dokter.
Pencegahan Infeksi
Pasien harus melindungi kebersihan diri untuk menghindari infeksi pasca-prosedur. Cuci tangan dengan sabun serta air dengan saksama, hindari kerumunan, dan juga hindari kontak dengan khalayak yang digunakan sedang sakit.
Pencegahan tumor ganas paru sangat penting. Hindari hal-hal yang digunakan menyebabkan karsinoma paru-paru lalu konsumsi nutrisi yang tersebut baik untuk kesehatan paru-paru, menjalani hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Menggunakan alat pelindung diri dari paparan unsur kimia juga dapat membantu pada pencegahan tumor ganas paru-paru.
Apabila Anda mempunyai permasalahan mengenai paru-paru atau mengalami sesak dada, atau kesulitan pernapasan lainnya, dokter spesialis paru RS Siloam MRCCC Semanggi, Ginanjar Arum Desianti dapat berubah menjadi pilihan yang dimaksud tepat untuk berkonsultasi.
Anda sanggup lakukan booking jadwal konsultasi dokter dengan mengunjungi https://www.siloamhospitals.com/cari-dokter atau mengakses perangkat lunak MySiloam atau menghubungi Contact Center 1-500-181. (*)
Artikel ini disadur dari Terobosan Teknologi EBUS dalam Deteksi Kanker Paru






