BMKG Ingatkan Risiko Gelombang Tinggi, Maksimal 4 Unit di dalam Laut Selatan Nusa Tenggara
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, juga Geofisika (BMKG) kembali menerbitkan peringatan serius dini tentang gelombang tinggi yang digunakan memiliki kemungkinan berlangsung di sebagian perairan pada 17-18 Juli 2024. Prakirawan BMKG, Dyah Ayu, mengemukakan pola angin mengakibatkan gelombang laut yang dimaksud berisiko mengganggu pelayaran.
“Gelombang tinggi ke kisaran 2,5-4 meter berpeluang berjalan pada Samudra Hindia Selatan Nusa Tenggara Barat juga Nusa Tenggara Timur,” katanya melalui keterangan tertulis, Rabu, 17 Juli 2024.
Menurut catatan BMKG, pola angin di dalam wilayah Tanah Air bagian utara sedang melakukan aksi dari tenggara ke barat daya dengan kecepatan sekitar 6-20 knot. Di Indonesi bagian selatan angin cenderung berhembus dari timur ke tenggara sekencang 8-25 knot. “Kecepatan angin tertinggi terpantau ke perairan selatan Jawa,” kata Dyah.
Selain gelombang laut setinggi 4 meter ke Nusa Tenggara, pola angin tadi juga memulai gelombang setinggi 1,25-2,5 meter pada bermacam lokasi, mulai dari Selat Malaka bagian utara, perairan utara Pulau Sabang, perairan barat Aceh-Kepulauan Mentawai, perairan Pulau Enggano-Bengkulu, perairan barat Lampung, Samudra Hindia Barat Sumatra, Selat Sunda bagian barat juga selatan, perairan selatan Jawa-Pulau Sumba, Selat Bali-Lombok-Alas-Sape bagian selatan, juga Selat Sumba. Pola yang sejenis juga muncul ke Laut Sawu, perairan Kupang-Pulau Rote, Samudra Hindia Selatan Jawa – Bali, juga Selat Karimata.
Peringatan dini BMKG perihal gelombang tinggi juga harus dipantau para pelaut yang dimaksud melintasi Laut Jawa, perairan utara Jawa Timur, perairan selatan Kalimantan, Laut Bali, Laut Sumbawa, Selat Makassar bagian selatan, Laut Flores, Laut Maluku, perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Laut Halmahera, Samudra Pasifik Utara Halmahera, perairan Baubau-Kepulauan Wakatobi, perairan Manui-Kendari, perairan Pulau Buru – Pulau Seram, Laut Seram, perairan Kepulauan Sermata-Kepulauan Tanimbar, perairan Kepulauan Kai-Kepulauan Aru, Laut Banda, hingga Laut Arafuru.
Dyah memohonkan pemilik perahu nelayan mewaspadai kecepatan angin lebih banyak dari 15 knot kemudian membesar gelombang pada melawan 1,25 meter. Sama halnya dengan kapal tongkang yang digunakan harus memperhatikan risiko angin lebih tinggi dari 16 knot serta gelombang di menghadapi 1,5 meter.
Adapun kapal penyeberangan harus memperhatikan angin sekencang kebih dari 21 knot kemudian besar gelombang pada melawan 2,5 meter. Kapal berukuran jumbo, baik kargo maupun tipe pesiar, harus mewaspadai kecepatan angin lebih banyak dari 27 knot kemudian lebih tinggi gelombang ke menghadapi 4 meter.
“Masyarakat yang tinggal dan juga beraktivitas dalam area pesisir selalu waspada,” tutur Dyah.
Artikel ini disadur dari BMKG Ingatkan Risiko Gelombang Tinggi, Maksimal 4 Meter di Laut Selatan Nusa Tenggara




