Begini Konsekuensi Kerusuhan pada Puncak Jaya, Papua Tengah
TEMPO.CO, Ibukota – Kepala Polres Puncak Jaya, Papua Tengah, Ajun Komisaris Besar Kuswara mengakui kerusuhan yang digunakan terbentuk di Mulia, Wilayah Puncak Jaya pada Kamis siang berdampak terhadap penerbangan sipil. Akibatnya, pelayanan di dalam Bandar Atmosfer Mulia dihentikan sementara.
“Memang benar akibat kerusuhan yang mana berlangsung di dalam Mulia, hari ini tiada ada penerbangan ke Mulia,” kata Kuswara, Kamis, 18 Juli 2024, yang dimaksud dikutipkan dari Antara.
Ia menyatakan penerbangan sipil yang tersebut melayani warga memang sebenarnya tiada ada. Kuswara belum memverifikasi kapan penerbangan sipil yang dimaksud akan kembali beroperasi. “Kami berharap situasi keamanan ke wilayah itu segera kembali kondusif agar penerbangan kembali normal kemudian warga kembali beraktivitas,” katanya.
Kuswara mengemukakan pada waktu ini Polres Puncak Jaya sudah mendapat bantuan pengamanan dari Brigade Mobil Polda Papua dan juga Satuan Tindakan Damai Cartenz. “Mudah-mudahan situasi keamanan segera kembali kondusif.”
Kerusuhan yang mana terjadi ke Mulia, Kota Puncak Jaya, ini berawal dari meninggalnya tiga warga setempat akibat ditembak aparat keamanan pada Selasa waktu malam lalu. Ketiga warga yang disebutkan berinisial SW (33 tahun), YW (41 tahun), lalu DW (36 tahun).
Kematian ketiganya memicu kemarahan warga. Mereka lantas berbuat anarkistis. Kerusuhan ini mengakibatkan individu warga bernama Abdulah Jaelani (30 tahun) meninggal akibat terkena benda tajam. Lalu empat pendatang terluka. Satu warga ke antaranya adalah Komandan Batalion (Danyon) 753/AVT Mayor Inf Novald Dermawan. Novald lemparan batu di kepala.
Tiga warga lainnya adalah Arief (45 tahun) yang dimaksud terkena panah ke punggung, Safrudin (44 tahun) yang mana terkena lemparan batu bagian bibir, dan juga Surati alias Bude Nina (53 tahun) yang terluka akibat benda tajam.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Komando Daerah Operasi Sinak Puncak Jaya membantah terlibat di pembunuhan warga sipil ke Puncak Jaya. Mereka bekukuh bahwa pembunuhan yang disebutkan berjalan akibat kemarahan warga menghadapi pembunuhan tiga warga warga asli yang dimaksud ditembak oleh militer Nusantara pada 16 Juli lalu.
“Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB OPM tak bertanggung jawab. Sebab aksi tembak terhenti lalu awal mulai kericuhan itu direalisasikan oleh militer Indonesi yang mana dikirim oleh Presiden Tanah Air pada menjalankan tugas pengamanan negara di tanah Papua,” demikian pernyataan TPNPB Kodap Sinak Puncak Jaya, Kamis, 18 Juli 2024, diambil dari Jubi.
Artikel ini disadur dari Begini Dampak Kerusuhan di Puncak Jaya, Papua Tengah





